Aku Menuggumu…

Aku Menuggumu… Juni 18, 2007

“Afwan Ukhti, semoga ini tidak melukai Anti dan keluarga Anti. Ana pikir sudah saatnya ana memberi keputusan tentang proses kita. Ya….seperti yang Anti ketahui bahwa selama ini ana telah berusaha melobi orang tua dengan beragam cara. Mulai dari memahamkan konsep nikah ‘vesi’ kita, memperkenalkan Anti pada mereka hingga melibatkan orang yang paling ayah percaya untuk membujuk ayah agar mengizinkan ana untuk menikahi Anti. Namun hingga sekarang nggak ada tanda-tanda mereka akan melunak, jadi menurut ana….sebaiknya ana mundur saja dari proses ini!” Dana diam sejenak untuk menunggu respon dari seberang, tapi hingga beberapa detik tidak ada tanggapan. “Perlu Anti ketahui bahwa orang tua ana sebenarnya sudah tidak keberatan dengan Anti. Hanya saja timingnya yang belum tepat. Ayah ana khawatir ana tidak mampu menafkahi Anti jika belum bekerja. Apalagi Anti juga masih kuliah. Jadi ana rasa, ahsan kita nggak ada komitmen dulu hingga keadaannya membaik! Anti nggak keberatan khan, Ukhti?”

“Keberatan….?Alhamdulillah nggak! Namun kalau ana boleh kasih saran; apa tidak lebih baik kalau kita terus melobi sambil tetap proses saja. Soalnya khan kita sudah mantap satu sama lain, nggak enak kalau mundur di saat seperi ini. Apalagi permasalahannya sudah mulai mengerucut ke arah ma’isyah saja. Anta pasti masih ingat gimana sulitnya start awal kita membujuk orang tua, rasanya semua kriteria kita ditolak. Segala keterbatasan kita jadi aib yang sangat besar, pokoknya semua jalan sepertinya sudah tertutup rapat. Namun kenyataannya hanya dalam waktu dua minggu kita bisa mengeliminir semua syarat menjadi satu syarat saja: PEKERJAAN!” Dini, gadis tegar itu akhirnya bicara juga. “Akhi….kita hanya tinggal selangkah, tetaplah berikhtiar dan jangan putus asa. Bukankah Allah Maha membolak-balikkan hati?”

“Benar, ana paham soal itu, ana memang akan tetap melobi orang tua ana, akan tetapi kalau kita terikat, ana khawatir menghalangi Anti proses dengan ikhwan lain yang lebih kaffaah dari ana. Lagi pula ana khawatir tidak bisa menjaga hati.”

“Takut menghalangi ana untuk proses dengan ikhwan lain? Itu khan urusan Allah bukan urusan Anta! Kewajiban Anta sekarang adalah berjuang mempertahankan sesuatu yang Anta sudah mantap dengannya. Hasil istikharah itu nggak mungkin salah. Tinggal bagaimana cara kita mengaplikasikannya saja.” Hening sejenak…

”Ya…tapi kalau memang Akhi sudah merasa syak terhadap ana dan mantap untuk mundur, alhamdulillah. Insyaallah ana akan dukung sepenuhnya.”

“Nggak!” Reflek Dana berteriak. “Astaghfirullah al-‘adzim, afwan maksud ana, ana -sama dengan keluarga ana- sudah tidak ada syak pada Anti. Kami sangat menyukai Anti dan keluarga Anti. Selain itu ana juga takut perasaan ini semakin dalam. Ana ini hanya hamba yang dhoif yang masih kesulitan mengekang hawa nafsu.” Dana berhenti lagi, dadanya terasa sesak, air matanya mengalir semakin deras. Jauh di dalam hatinya, sesungguhnya ia merasa malu pada Allah atas kelalaiannya. Jatuh cinta!

“Halo…!!” Dini merasa Dana diam terlalu lama. Dia tidak tahu kalau pemuda itu sedang menangis. Tapi dia mengerti apa yang sedang terjadi padanya. “Ya udah…kalau begitu sekarang kita sepakat untuk membatalkan proses ini!! Setelah ini Insyaallah kita tidak akan lagi berhubungan kecuali untuk keperluan syari yang sangat darurat, iya kan?” Dini sengaja memberi jeda agar Dana bicara, tapi ikhwan itu memilih terus diam.

“Akhi…kita tetap baik ya! Silaturahmi dengan keluarga harus tetap dijaga, jangan suudzon pada ayah dan bunda karena bisa jadi keputusan mereka adalah salah satu jalan Allah untuk menguji kita.” Dini berhenti lagi tapi Dana masih enggan berkomentar. “La tahzan, ya Akhi… Insyaallah kalau kita niatkan semuanya demi keridhaan Allah, maka Dia akan mencatat bagi kita pahala yang besar. Afwan jika selama proses ta’aruf ini… ana, teman-teman dan keluarga ana banyak melakukan kekhilafan. Ana mewakili mereka dan diri ana sendiri untuk memohon maaf pada Anta. Bersabarlah karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…” Samar, Dini mendengar isak tangis di seberang. Dia nyaris tidak percaya…

“Semoga ini bisa menjadi mahar cinta kita pada Allah dan semoga Akhi mendapat ganti yang lebih baik… Amin.” Suara isak tangis makin terdengar jelas.

“Akhi… kalau sudah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, tafadhol diakhiri!” tidak ada tanggapan.

“Hallo…!!?. Ya udah, kalau gitu biar ana yang tutup telponnya, ya…?” Sepi. “Assalamualikum!” Klik. Percakapan di antara mereka berakhir, tapi Dana baru menyadarinya. Dia segera bergegas mengambil air wudhu dan salat. Jujur, sebenarnya dia sudah sangat mantap dengan mantan calon istrinya itu… Namun dia tidak yakin dapat membahagiakan akhwat itu kalau dirinya belum bisa menafkahi dengan layak. Padahal Dini dan keluarganya tidak mempermasalahkan tentang hal itu. Mereka sangat welcome padanya. Ah… mungkin ini sudah takdirnya. Mungkin Allah melihat bahwa akhwat itu terlalu baik untuk dirinya. Mungkin seharusnya akhwat sekaliber dia, mendapatkan ikhwan yang jauh lebih baik dari dirinya. Dia benar-benar merasa tidak level!!

“Ya… ikhwan lemah sepertiku, mana mungkin mendapatkan seorang Dini. Populer tapi tetap rendah hati, tegar, bijaksana, wara’, zuhud, qonita, qonaah… Pokoknya semua sifat baik ada padanya. Sedangkan aku… Naudzubillah mindzalik, semoga aku nggak akan menyakiti akhwat lain setelah ini. Astaghfirullah al-‘azhim… apa yang telah kusombongkan selama ini? sudah ikut Mulazamah bertahun-tahun tapi masih belum berani mengamalkan ilmu yang didapat sedikit pun. Katanya percaya bahwa orang yang menikah pasti akan dijamin rizqinya oleh Allah, ternyata aku tidak lebih hanya seorang ikhwan yang pengecut.” Dana tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Dia benar-benar merasa tak berarti. “Dulu.., aku pernah begitu khusyu’ berdoa pada Allah agar dipertemukan dengan akhwat salihah yang tidak banyak permintaan seperti dia. Sekarang ketika sudah dapat, malah kusia-siakan. Kini aku sadar bahwa Allah selalu mengabulkan permohonan hamba-Nya. Manusialah yang selalu kufur pada Rabb-nya.”

-000-

Di tempat yang berbeda, Dini menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Dia tetap ceria seperti biasanya. Ya… seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Kecewa jelas ada, karena Dini juga hanya manusia biasa. Namun dia bisa mengemas kekecewaannya dengan manis, membuat kesedihannya menjadi sesuatu yang lumrah dari proses kehidupan. Dia percaya bahwa hatinya tidak mungkin berbohong dan janji Allah pasti terjadi. Maka sesulit apa pun kondisi yang dihadapinya saat itu, dia mencoba untuk tetap tersenyum. Jujur, aku bangga padanya. “Aku sudah mantap dengannya, Kak. Aku yakin dialah jodohku. Aku akan terus menunggunya…”

-000-

Sepekan kemudian, Dana menitipkan biodata ikhwan lain yang merupakan teman dekatnya untuk diberikan pada Dini. Menurutnya ikhwan itu bisa membahagiakan Dini karena sudah matang dan punya pekerjaan tetap. Jelas, aku tahu bahwa pendapatnya keliru. Dini bukan mengharap ikhwan yang matang dan mapan. Dia hanya mengikuti kata hatinya saja. Diniku tidak akan bahagia hanya dengan harta dan tahta. Namun, tak urung kuterima juga biodata itu. Dan bisa ditebak, bagaimana reaksi Dini saat kuberikan empat lembar kertas berukuran A4 itu. Dini menggeleng pasti.

“Anti coba istikharah dulu. Barangkali semuanya bisa berubah..” bujukku.

Jazaakumullah khoir, tapi… afwan tolong jangan paksa ana, Kak!”

-000-

Ikhwah fillah, mungkin sebagian Anda akan menganggap Dana sebagaimana penilaian Dana terhadap dirinya sendiri. Pengecut, munafik, jahil dan sifat-sifat buruk yang lainnya. Tapi bagi saya, Dana tidaklah seburuk itu. Justru sebaliknya, Dana dalam pandangan saya adalah ikhwan yang hanif. Dia berani mengambil risiko dengan mundur dari proses dan memilih untuk bersabar melawan nafsunya. Padahal kalau dia mau, dengan sikap Dini yang penurut, dia bisa saja minta untuk tetap meneruskan hubungan dengan gadis pilihannya itu. Namun dia tahu bahwa di atas segalanya, Allahlah yang patut untuk lebih dicintai.

Dana yakin bahwa jodoh adalah kekuasaan Allah dan Dia telah menetapkannya lima puluh ribu tahun sebelum semesta ada. Dia tahu kalau jodoh pasti akan ketemu lagi, bagaimanapun caranya. Mungkin Dini tidak akan pernah tahu kalau biodata yang kusodorkan kemarin adalah kiriman Dana. Mungkin Dana juga tidak akan pernah tahu kalau ternyata Dini akan terus menunggunya. Dan mereka juga tidak boleh tahu bahwa diam-diam aku selalu mendoakan kebaikan untuk mereka. Entah bagaimana ending kisah ini nantinya, yang pasti aku selalu berharap agar masing-masing dari mereka mendapatkan ganti yang lebih baik. Segera…

-000-

29 Nopember 2005

Untuk semua ikhwah yang sedang menunggu, sabar ya…

Disarikan dari Kisahnyata Majalah Nikah Februari 2006 dicuplik dari http://www.arifardiyansah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: