Pulanglah Suamiku

Pulanglah Suamiku


Rumah tangga bahagia adalah impian setiap wanita. Sayang, kadang impian itu tinggal impian, dan susah diwujudkan. Kisahku ini hanyalah satu contoh bahtera rumah tangga yang terpaksa kandas, dan menyisakan kepedihan.

Setelah sekolahku selesai, sebagai gadis aku pun merindukan untuk segera menikah. Setahun sudah aku menganggur, sembari menanti datangnya pinangan pangeran idaman.

Suatu hari, ada juga sang pangeran yang meminangku. Bahagia rasa hati ini setelah sekian lama menanti. Apalagi, kedua pihak keluarga merestui hubungan kami. Namun. qadarullah, tiada kami sangka, hubungan kami kandas kala akad nikah akan dilangsungkan. Ternyata kami belum berjodoh.

Allah adalah Maha di atas Maha. Dialah yang menentukan nasib hamba-Nya. Manusia hanya bisa berencana dan berikhtiar, dan hanya Allah yang mampu memuluskannya.

Setelah kandas dengan pangeran pertama, datang jugalah pangeran yang kedua. Sayang, kali ini sang pangeran mengaku bila dia sudah dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya, akan tetapi dia tidak suka. Sang gadis sedang menunggu ketegasan sikapnya.

Kepadaku dan keluargaku dia mengungkapkan, bila aku bersedia menerima lamarannya, maka ia akan segera ‘melepaskan’ gadis pilihan orang tuanya. Berdiri tegak bagaikan patung aku saat itu, tanpa mengeluarkan kata-kata sedikit pun. Hatiku gamang. Memang kedatangan pangeran adalah dambaan, akan tetapi akankah begitu tega diriku menerima lamaran itu? Ada gadis lain yang sedang menanti jawabannya. Sebagai sesama wanita, rasanya hatiku pun akan sakit jika menempati posisinya. Akhirnya, pangeran kedua ini pun pulang dengan tangan hampa.

Seminggu setelah lamaran itu, datanglah pos mengantarkan risalah (surat) buatku. Ternyata surat itu datang dari sahabat karib pangeran kedua. Mulailah kubuka lembarannya satu per satu. Astaghfirullah, alhamdulillah, subhanallah, aku tidak tahu lantunan yang manakah yang pantas aku lontarkan saat itu. Dia mengirimkan surat lamaran buatku dan seminggu lagi akan datang mengurus semuanya. Ini sungguh kejutan buatku karena sebelumnya aku tidak mengenalnya.

Hari demi hari berlalu begitu lama, sepertinya aku tak sabar lagi menanti kedatangannya. Maka tibalah hari yang dijanjikan. Singkat cerita, dengan proses yang tergolong singkat, kami pun menikah. Alhamdulillah Allah memudahkan segalanya, walau sebelumnya kami belum saling mengenal.

Masa awal pernikahan itulah masa pacaran kami. Suka duka kami jalani bersama. Kebersamaan itu kami jalani hingga 20 hari. Berhubung masa cuti suamiku sudah habis, dia pun harus kembali ke negeri orang untuk mencari nafkah. Ya, suamiku adalah TKI, dan kami pun harus berpisah untuk sementara waktu. Maka kulepaskanlah suamiku. Linangan air mataku mengiringi langkahnya menaiki pesawat yang akan membawanya.

Setelah delapan bulan berlalu, suamiku tercinta pun pulang dan mempersiapkan keberangkatanku ikut bersamanya. Rasa ketidaktegaan orangtuaku ditandai dengan air mata, tapi apa daya aku harus mengikuti dan lebih memilih suamiku. Bersama suamiku kutinggalkan kampung halaman yang penuh kenangan.

Mulailah aku beradaptasi di negeri orang. Aku tinggal serumah dengan suamiku. Kebahagiaan pernikahan yang selama ini tertunda, kini telah mengiringi keseharian kami. Buah dari kebahagiaan kami, ditandai dengan tumbuhnya si kecil dalam rahimku. Entah kenapa tubuh ini semakin lemah, dan bawaannya pingin ngidam terus. Alhamdulillah, suamiku begitu sabar menuruti semua kemauanku, malam pun rela keluar mencari sesuatu untuk kami.

Setelah 6 bulan usia kandunganku, suamiku berkeinginan supaya buah hati kami lahir di kampungku. Maka mulailah dia mengurus semuanya. Pemberangkatan pun dimulai.

Perjalanan berjalan lancar, dan sampai juga kami di kampung yang kurindui. Sambutan hangat aku terima dari pihak keluargaku. Sebulan kemudian suamiku berangkat lagi, dan akan kembali saat kelahiran anak kami.

Setelah kandunganku memasuki usia 9 bulan, suamiku menepati janjinya untuk datang dan menunggui kelahiran si kecil. Alhamdulillah, anak kami lahir dengan selamat. Seorang bayi laki-laki yang montok dan lucu telah melengkapi kebahagiaan kami.

Seminggu sudah usia anak kami, maka seminggu pula dia melihat ayahnya. Setelah itu, kesendirian kembali mengiringi perjalanan hidupku, akan tetapi kehadiran si kecil sedikit menghibur kegundahan hati.

Kerinduanku pada suami hanya bisa kupendam hingga anak kami berusia setahun. Alhamdulillah, kerinduan ini terobati dengan kepulangannya. Kali ini, tidak seperti biasanya, ia mengajak kami tinggal bersama kedua orang tuanya. Kira-kira dua minggu aku berada di rumah mertua bersama suamiku.

Setelah dua minggu, akhirnya kami harus ditinggal lagi. Aku tinggal di rumah mertua tanpa suamiku. Di sinilah awal penderitaanku. Tanpa suamiku di sisiku, aku tak bisa hidup tenang di tengah keluarganya. Entahlah mengapa aku nyaris tak punya harga diri di mata keluarganya.

Setiap hari batinku tertekan dengan keangkuhan mereka. Linangan air mata mengalir di setiap doaku. Hanya Allahlah tempatku mengadu. Biarlah kusimpan sendiri derita ini. Satu setengah tahun aku tinggal bersama mereka, tapi belum juga ada ketenangan. Maka aku minta izin untuk tinggal bersama orang tuaku lagi.

Kini aku tinggal di rumah kedua orang tuaku, dan anakku pun sudah memasuki usia sekolah. Sejak aku meninggalkan rumah mertua, tiada komunikasi sama sekali antara aku dan suamiku, walau hanya lewat surat atau telepon. Tidak hanya itu, aku pun sudah tidak lagi dikirimi uang belanja.

Entah apa yang telah terjadi pada diri suamiku, hingga dia jadi berubah. Mungkinkah telah timbul fitnah di antara kami? Ya Allah, kuatkanlah hamba dengan semua ini.

Dalam hati aku sering bertanya-tanya, apa salahku, apa dosa anakku, mengapa kami disia-siakan seperti ini? Anakku butuh biaya sekolah, bagaimana aku mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami? Simpanan perhiasan yang kumiliki telah habis untuk biaya anakku. Selanjutnya, untuk kebutuhan sehari-hari aku berjualan jajan, tapi itu pun belum cukup.

Di saat keadaanku seperti itu, datang berita tentang suamiku yang membuat hancur hatiku sebagai seorang istri maupun ibu. Aku mendengar bahwa suamiku telah beristri lagi, bahkan sudah memiliki seorang anak berusia 1 tahun yang dinamai dengan nama anak kami.

Kutatap erat wajah anakku. Malang sekali nasibmu, Nak. Ayahmu telah menyia-nyiakanmu, padahal engkau butuh kasih sayangnya dan masa depan yang jelas.

Pernah anak kami menangis ingin bertemu ayahnya. Bergetar hatiku saat itu, tiada keberanian sedikit pun untuk menghubunginya. Tapi karena tak kuat dengan rengekannya, akhirnya kuhubungi juga ayahnya.

Si bocah mulai bicara tanpa kutuntun, “Yah, adek minta uang buat jajan. Adek sudah sekolah.” Tiba-tiba anak itu menangis dengan kerasnya, ternyata si ayah telah menutup telpon tanpa memberikan jawaban.

Ya Allah, kuatkanlah kami, lapangkanlah hati kami menghadapi semua ini. Si kecil menangis terus selama tiga hari, mungkin dia teringat akan kelakuan ayahnya. Hati ibu mana yang tidak sakit menyaksikan anaknya dizhalimi oleh ayahnya sendiri? Dia belum tahu apa-apa, tak selayaknya dia ikut mengemban derita hati ini.

Pupus sudah semua harapanku untuk menjadi istrinya lagi. Sudah tidak ada komunikasi lagi di antara kami. Entah apa nama pernikahan kami. Kalau dalam hukum agama, ada hak bagiku untuk meminta thalaq (cerai) dengannya. Tapi bagaimana dengan masa depan anakku? Akhirnya aku putuskan untuk menerima semua ini dengan tawakkal dan doa. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Jujur saja, bila mengingat anakku, aku ingin suatu saat suamiku kembali pada kami.

Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Aku berharap ada hikmah di balik semua cobaan ini. Sesungguhnya setelah kesukaran itu ada kemudahan. Bagi para pembaca doakan kami, supaya bisa bersatu lagi.

Sepucuk suratku buatnya,

Kanda … suamiku,

Kami berdua merindukanmu

Kami rindu kasih sayangmu

Kami butuh perlindunganmu

Kembalilah Sayang

Kami akan menerimamu apa adanya

Mari kita bangun lagi bahtera ini

Demi anak kita yang masih membutuhkanmu

Sayang …

Pintu rumah kami terbuka selalu

Maafkan atas kesalahanku demi bocah ini …

Kalaupun tiada cinta lagi, lepaskanlah ikatan ini

Aku ikhlas bila itu yang terbaik…

Dinda

(Ummu Luthfi)

kisahnyata majalah Nikah Januari 2006 dicuplik dari http://www.arifardiyansah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: